Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Network (1976): Sinema tentang Masyarakat yang Mengkonsumsi Penderitaannya Sendiri

Gambar
Sidney Lumet, melalui Network, tidak membuat film, melainkan sebuah manifesto sinis tentang kematian nalar dan komodifikasi penderitaan manusia. Dirilis tahun 1976 — sebelum infotainment, reality show, clickbait, dan algoritma viral — film ini sudah membaca masa depan dengan ketepatan mengerikan. Network adalah parabel tentang bagaimana kapitalisme modern tak lagi sekadar menjual barang, tapi emosi, amarah, ketakutan, dan bahkan kematian itu sendiri. Kapitalisme Media: Bukan Menjual Informasi, Tapi Mengatur Emosi Narasi film ini sederhana di permukaan: Howard Beale, seorang anchor berita veteran, dipecat karena rating acara anjlok. Dalam kondisi mental terpuruk, ia mengumumkan akan bunuh diri di siaran langsung. Ironisnya, justru aksi itu membuat rating melonjak drastis. Alih-alih menyelamatkan Beale, pihak stasiun memanfaatkan momentum itu. Ia dijadikan maskot kemarahan rakyat; bukan untuk perubahan sosial, tapi demi angka Nielsen. Inilah kapitalisme hiburan dalam bentuk paling telanj...

The Truman Show: Panggung Totalitarianisme Lembut dalam Era Hiburan Tanpa Akhir

Gambar
  The Truman Show (1998)  garapan Peter Weir bukan sekadar film satire tentang reality show ekstrem. Ia adalah  studi sinematik tentang bagaimana kekuasaan modern bekerja melalui mekanisme hiburan, pengawasan, dan rekayasa sosial . Film ini menjadi semacam prarefleksi tentang masyarakat digital hari ini — di mana hidup manusia bukan lagi milik dirinya, melainkan produk algoritma, tontonan, dan ekspektasi publik. Peter Weir menyusun  The Truman Show  sebagai sebuah alegori tentang  hegemoni sosial  yang tak kasatmata: sebuah sistem yang tak memaksa, tapi membentuk. Tidak menekan lewat senjata, tapi lewat senyuman. Tidak membungkam lewat ancaman, tapi lewat rasa aman yang terlalu nyaman untuk dipertanyakan. Di tangan Weir, konsep totalitarianisme dimodifikasi menjadi lebih subtil. Jika kekuasaan Orde Baru atau rezim-rezim brutal ditandai dengan represi terbuka, maka  The Truman Show  memaparkan kekuasaan kontemporer yang hadir dalam wujud palin...

Antara Loyalitas, Kekuasaan, dan Pembebasan yang Gagal: Film Autobiography

Gambar
  Film panjang perdana Makbul Mubarak,  Autobiography  (2022), memikul dua misi besar sekaligus: menghadirkan kritik terselubung terhadap jejak militerisme pasca-Orde Baru, sembari merekam trauma lintas generasi yang diwariskan tanpa perlawanan terbuka. Alih-alih menyampaikan pernyataan politis secara gamblang, Makbul memilih membangun ketegangan lewat atmosfer pekat dan detail simbolik yang subtil—mulai dari secangkir kopi, papan catur, hingga bunyi-bunyian khas desa yang menyimpan gema kekuasaan. Semua disampaikan melalui perspektif Rakib, seorang pemuda desa yang kesetiaannya dipertaruhkan demi Purnawinata, jenderal pensiunan yang tengah memburu kursi kekuasaan lokal. Makbul Mubarak tidak memilih jalur lantang dalam membicarakan patriarki. Ia menolak keributan perdebatan gender publik dan lebih memilih menyelinap ke ruang-ruang sunyi di mana relasi antar-lelaki berlangsung tanpa saksi. Dalam film ini, ketidakhadiran perempuan bukanlah kelalaian, melainkan keputusan art...