Network (1976): Sinema tentang Masyarakat yang Mengkonsumsi Penderitaannya Sendiri




Sidney Lumet, melalui Network, tidak membuat film, melainkan sebuah manifesto sinis tentang kematian nalar dan komodifikasi penderitaan manusia. Dirilis tahun 1976 — sebelum infotainment, reality show, clickbait, dan algoritma viral — film ini sudah membaca masa depan dengan ketepatan mengerikan.

Network adalah parabel tentang bagaimana kapitalisme modern tak lagi sekadar menjual barang, tapi emosi, amarah, ketakutan, dan bahkan kematian itu sendiri.

Kapitalisme Media: Bukan Menjual Informasi, Tapi Mengatur Emosi

Narasi film ini sederhana di permukaan: Howard Beale, seorang anchor berita veteran, dipecat karena rating acara anjlok. Dalam kondisi mental terpuruk, ia mengumumkan akan bunuh diri di siaran langsung. Ironisnya, justru aksi itu membuat rating melonjak drastis.

Alih-alih menyelamatkan Beale, pihak stasiun memanfaatkan momentum itu. Ia dijadikan maskot kemarahan rakyat; bukan untuk perubahan sosial, tapi demi angka Nielsen.

Inilah kapitalisme hiburan dalam bentuk paling telanjang: penderitaan manusia bukan sesuatu yang harus diatasi, tapi dipertontonkan, dikomodifikasi, dan dijual sebagai tontonan. Dan yang lebih tragis, masyarakat menikmati itu.

Simbolisme: Setiap Frame Adalah Satir Ideologi

Studio televisi dipotret bukan sebagai ruang jurnalisme, melainkan kuil penyembahan angka rating.

Dialog tentang bisnis televisi secara terus terang menyatakan bahwa moralitas tidak laku. Yang penting, siapa yang menonton dan berapa banyak.

Pertemuan eksekutif stasiun dengan Arthur Jensen, pemilik konglomerasi media, adalah monolog kapitalisme murni. Bahwa dunia ini tidak diatur oleh negara, agama, atau hukum, melainkan oleh flow of dollars.

“There is no America. There is no democracy. There is only IBM, and ITT, and AT&T, and DuPont, Dow, Union Carbide, and Exxon.”

Dalam satu adegan itu saja, film ini membongkar fondasi ilusi negara-bangsa dan demokrasi liberal di bawah cengkeraman korporasi.

Karakterisasi: Manusia dalam Sistem yang Menggilas

Howard Beale bukan sekadar karakter tragis, tapi prototipe manusia modern yang kehilangan kontrol atas emosinya sendiri.

Di bawah tekanan sistem media kapitalis, amarahnya dijinakkan, dibungkus jadi komoditas, lalu diperdagangkan.

Diana Christensen adalah personifikasi kapitalisme hiburan: tak peduli kemanusiaan, hanya peduli hitungan. Cintanya palsu, empatinya nihil, nilai moral baginya hanya sebatas angka target.

Max Schumacher, satu-satunya karakter yang masih menyimpan sisa-sisa moralitas, justru dipinggirkan. Film ini dengan getir menunjukkan, dalam sistem seperti ini, orang waras tidak punya tempat.

Kritik Struktural: Kapitalisme Menelan Kritiknya Sendiri

Yang paling jenius (dan paling mengerikan) dari Network adalah bagaimana film ini sadar bahwa sistem kapitalisme media punya kemampuan menelan kritik, lalu menjualnya kembali sebagai barang dagangan.

Howard Beale awalnya adalah pemberontak, tapi kemudian diproduksi ulang jadi bintang. Kemarahan sosial yang mestinya berbahaya dijinakkan menjadi tontonan.

Inilah mekanisme dasar media kapitalis:

  • Kritik dimanfaatkan
  • Kemarahan dikomersialisasi
  • Penderitaan dijadikan acara prime time
  • Dan publik? Bertepuk tangan, lalu membiarkan sistem berjalan.

Network menunjukkan bahwa dalam masyarakat spektakel, revolusi pun bisa dipaketkan jadi program acara.

Kelebihan:

Naskah paling cerdas tentang industri media sepanjang sejarah sinema.

Dialog monolog panjang yang bukan sekadar narasi, tapi senjata ideologi.

Kritik sistemik, bukan sekadar personal. Semua karakter adalah korban, pelaku, sekaligus produk sistem.

Visinya tentang kapitalisme media tetap relevan bahkan lebih akut hari ini.


Kekurangan:

Karena intensitas verbalnya, sebagian penonton modern mungkin merasa ritmenya terlalu teatrikal.

Subplot romansa antara Max dan Diana agak dipaksakan, walau tetap simbolis.

Ending-nya terlalu cepat meredakan krisis moral tanpa ledakan akhir.


Konklusi: Film tentang Kita yang Diam-diam Menyukai Kekacauan

Network bukan hanya film tentang televisi. Ia adalah film tentang kita. Tentang masyarakat yang diam-diam menikmati kekacauan, amarah, dan kematian selama itu disajikan dengan pencahayaan bagus dan iklan menarik.


Film ini menyatakan dengan dingin:

Bahwa di balik setiap kematian viral, tiap trending topic tentang tragedi, dan tiap gelombang kemarahan daring — ada rating yang naik, iklan yang laris, dan elite yang menertawakan kita semua.

Dan celakanya, kita rela membayar untuk menontonnya.


Rating Kritis: 9.5/10

Sebuah film sinis yang cerdas dan jahat, terlalu jujur untuk zamannya, dan terlalu relevan untuk hari ini.

Network bukan sekadar tontonan, melainkan peringatan yang kita abaikan karena kita terlalu sibuk menonton hal lain.

Komentar